Buk, Amit.

Mama told me when I was young
“Come sit beside me, my only son
And listen closely to what I say
And if you do this it’ll help you some sunny day”

“Oh, take your time, don’t live too fast
Troubles will come and they will pass
You’ll find a woman and you’ll find love
And don’t forget, son, there is someone up above”

“And be a simple kind of man
Oh, be something you love and understand
Baby be a simple kind of man
Oh, won’t you do this for me, son, if you can”

 

Demi mendramatisir tulisan pertama ini, saya menyisipkan tukilan dari lirik lagu yang sering saya dengar ketika saya sedang rindu Ibu saya. Bukan karena saya berada jauh dari Ibu saya, namun dikarenakan beberapa alasan yang akan saya ceritakan di paragraf selanjutnya nanti.

Lirik di atas merupakan cuplikan dari lagu yang berjudul Simple Man yang dinyanyikan oleh grup rock asal  Amerika Serikat, Lynyrd Skynyrd. Meski tidak dirilis sebagai single,namun lagu ini disebut sebagai salah satu lagu hits dari mereka, sejajar dengan Sweet Home Alabama dan Free Bird.

Sebenarnya hubungan saya dan Ibu saya tidak terlalu spesial seperti keluarga lain. Tidak pula seperti diceritakan dalam lagu itu dimana seorang Ibu mengajak anaknya duduk bersama dan memberinya wejangan-wejangan untuk menjalani hidup. Ibu, adalah satu-satunya wanita di rumah saya selain asisten rumah tangga. Mungkin atas alasan tersebut, saya merasa agak rikuh jika harus memulai drama-drama keluarga seperti bercerita tentang hidup saya kepada Ibu.

Meskipun begitu, hubungan saya dan Ibu saya hampir tidak pernah dalam masalah. Namun bukan berarti senantiasa harmonis. Pernah suatu ketika, Ibu saya mogok bicara dengan saya dan kakak saya selama seminggu. Setelah kami berpikir keras apa penyebabnya, (Jelas sekali kami tidak akan bertanya langsung, kepalang malu dan sungkan), ternyata kami lupa bahwa beliau sedang berulang tahun beberapa hari yang lalu. Parahnya lagi, beliau menambahkan pada saat (mungkin) terpaksa menjelaskan kepada kami yang polos ini, rekan kerjanya memberinya selamat lebih dulu daripada kami karena mereka tahu melalui laman Facebook beliau. Sejak itulah, saya mengerti betapa pentingnya memperhatikan bagian “Siapa yang berulang tahun hari ini” pada Facebook saya.

Menyadari bahwa beliau adalah satu-satunya wanita di rumah dan hidup di antara pria-pria yang kelewat gengsi untuk berdrama-drama ria macam keluarga cemara, beliau seakan selalu menahan diri untuk sekedar ngobrol santai dan bahkan memberi nasihat kepada anak-anaknya.

Lalu, kapankah saat yang tepat untuk meluapkan deposito perasaan dan petuah pada anak-anaknya? Jawabnya adalah pada saat kami sakit. Sungguh demi Tuhan dan segala yang Ia hidupkan, ketika kami sakit, di hadapan beliau kami hanyalah tabung elpiji 15 kilo yang sudah habis, hanya menang keras dan berat, namun gopok, rapuh dan ompong. Pada akhirnya, hanya beliaulah yang mampu menyembuhkan dengan gosokan minyak tawon serta gesekan uang koin yang dilakukan dengan ikhlas dIbumbui sedikit perasaan gemas. Tidak lupa, sesi kerokan yang berlangsung hanya sekitar 20 menit tersebut benar-benar dimanfaatkan beliau untuk meluapkan segala tabungan petuah yang sudah ditahan-tahan sebelumnya.

Nasihat dan pesan apakah yang paling sering beliau ucapkan? Selain agar anaknya selalu menjaga kesehatan, kekhasan dari petuah yang Ibu saya sampaikan adalah, agar kami selalu menjadi anak yang peduli pendidikan dan menjadi orang yang sederhana. Selama saya hidup, tidak pernah sekalipun Ibu saya menyuruh saya agar menjadi orang yang muluk-muluk dan berkedudukan tinggi. Alih-alih kedudukan, beliau lebih ingin agar anaknya memiliki pendidikan yang tinggi, namun tetap rendah hati.

Setelah kami sehat, kembalilah beliau menabung segala emosi serta petuahnya dalam-dalam. Mungkin terkadang terlampau banyak yang beliau tabung sehingga tanpa sadar beliau ungkapkan di saat-saat yang janggal, seperti saat saya akan mandi (bayangkan betapa anehnya ketika kamu sudah berkalung handuk dan siap masuk kamar mandi lalu Ibumu mendadak memberi nasihat), dan beberapa momen janggal lainnya.

Jika saya diberi kesempatan dan kepantasan untuk membalas seluruh pesan dan petuah dari Ibu saya, maka saya rasa tulisan ini adalah satu-satunya yang ingin saya kirimkan, meski saya belum tahu kapan saya bisa meredam gengsi untuk menyampaikan tulisan ini.

 

PS: Jika seandainya Ibu saya memang diberi kesempatan untuk membaca tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa, sebenarnya terkadang pura-pura sakit itu perlu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s