Barongsai Pulang Kampung

Matahari belum nampak bundar sempurna pada pagi itu. Pun, jarum jam baru saja menunjukkan pukul 5. Pagi itu tepat pada tanggal 16 Februari 2018, hari yang dirayakan oleh kalangan Tionghoa sebagai hari perayaan Sin Cia, atau lebih dikenal dengan nama tahun baru Imlek. Sepagi itu, saya sudah menyempatkan diri untuk bersiap melihat salah satu perayaan Sin Cia yang dirayakan di salah satu perkampungan Tionghoa di Surabaya

Sebenarnya saya mendapat kabar tentang adanya acara tersebut secara mendadak dari salah seorang kakak tingkat semasa SMA pada saat larut malam tanggal 15 Februari. Rasa-rasanya mendadak terjadi perdebatan kecil antara keinginan saya untuk melihat perayaan Sin Cia –Terlebih melihat barongsai dari dekat, dikarenakan semasa hidup saya, jarak terdekat bagi saya untuk melihat barongsai terbatas pada kursi ruang tamu dan layar kaca – dengan kemampuan saya untuk bangun pagi, mengingat acara tersebut berlangsung pukul 7.

Kenyataannya, saya harus merasa sedikit bersyukur karena memiliki gangguan tidur sehingga pada akhirnya, saya secara ironi berhasil gagal tidur lekas dan berimbas pada kemampuan saya untuk menyiapkan diri melihat barongsai dari dekat.

Kampung Tionghoa yang sedari tadi saya sebut bernama Tambak Bayan. Terletak di salah satu gang di antara Jalan Kramat Gantung. Dikutip dari laman Kompas.com, kampung Tambak Bayan terdiri dari 50 keluarga yang mayoritas etnis Tionghoa, namun sudah mengalami pembauran dengan warga asli Surabaya, maupun pendatang dari Madura, Bugis, dan Sunda.

Saya tiba pukul 8 di kampung Tambak Bayan. Tampak beberapa warga sedang mulai menyiapkan sound system, serta beberapa penampil pembuka yang sudah menyiapkan kostum. Acara dimulai pada pukul 9.30, dibuka oleh penampilan seni tari oleh anak-anak serta remaja dari kampung Tambak Bayan.

Entah pukul berapa, puncak acara dimulai. Barongsai-barongsai mulai dilepas dari kandangnya. Saya sedikit kecewa ketika ternyata barongsai yang dimainkan hanyalah barongsai remaja, alias ukurannya tidak terlalu besar. Barongsai digiring untuk beraksi di tengah gang Tambak Bayan lalu diajak untuk mendatangi rumah para sesepuh untuk mengambil (atau memakan?) sejumlah uang yang dimasukkan ke dalam amplop berwarna merah yang disebut angpau.

f2025270-b9f5-40a0-a44a-8c6b161e896c_169
Foto: Hilda Meilisa Rinanda

Nah, ketika saya mengkuti iring-iringan barongsai tersebut, baru saya memahami alasan mengapa barongsai yang disirkuskan hanyalah barongsai remaja. Kampung Tambak Bayan ternyata terdiri dari beberapa gang-gang kecil yang hanya bisa dilewati oleh maksimal 2 orang berbanjar. Bayangkan saja jika yang ditampilkan adalah barongsai indukan, mau keluar gang dengan metode putar-balik ya mana mungkin, satu-satunya solusi ya terpkasa harus mundur. Coba sebentar kalian bertanya pada diri sendiri sembari merenung dan berkontemplasi secara khidmat nan khusyuk, “Pernah gitu lihat naga jalannya atret?”.

Acara diakhiri sekitar pukul 11.00, namun sayang sekali saya harus pulang lebih awal karena mata yang sudah mulai panas dan menagih jatahnya untuk beristirahat.

Sepanjang perjalanan pulang, saya merasa bahagia. Bagaimana tidak? Setelah sekian lama Sin Cia hanya dirayakan di rumah, tempat peribadatan, dan sayangnya malah tempat perbelanjaan. Pada hari itu, perayaan Sin Cia dirayakan secara meriah nan sederhana di sebuah pecinan, dinikmati oleh berbagai usia, kalangan, maupun ras. Bahagia rasanya membayangkan perasaan-perasaan barongsai remaja tersebut masih sempat bermain-main di kampung halamannya sendiri.

Dan setelah saya riset kecil-kecilan menggunakan Google, kampung Tambak Bayan merupakan satu-satunya di antara pecinan di Surabaya yang merayakan Sin Cia di kampungnya sendiri.

Tambak Bayan, Nǐmen hěn kù!!

Advertisements

2 thoughts on “Barongsai Pulang Kampung”

  1. wih jauh banget tambak bayan, kawasan surabaya utara memang masih kental budaya pecinan dan budaya arabnya, alhamdulillah masih dilestarikan ya, jadi surabaya wisatanya nggak itu2 saja 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s