Pursuing a Simple Happiness

“I’m very happy when it rains, when I drink milk, and I have a good life. When I put on weight,  I’m thin now. When it rains, I’m very happy, when I drink milk, and eat everything I like. And when I sleep with the man I love who says sweet things to me and when I am in a nice hut which protects me from the cold and the rain. Those are the things that make me happy.”

Banyak hal sederhana yang mampu membuat manusia bahagia. Seperti cuplikan monolog di atas yang disampaikan oleh seorang wanita yang berasal dari suku Himba, suku yang hidup di dataran Kaokolad, Namibia. Monolog tersebut saya ambil dari film Human, film besutan Yann Arthus-Bernard. Film tersebut merupakan dokumenter yang menceritakan bagaimana setiap manusia di berbagai belahan dunia menceritakan segala pengalaman dan perasaan mereka sebagai manusia, mulai dari cinta, kebahagiaan, berperang, hingga kesedihan.

Setiap manusia rasanya ingin untuk menjadi bahagia.Tidak ada manusia yang ingin seumur hidupnya bergumul dengan kesedihan, dan seringkali beberapa orang menyebutkan sebuah kalimat klise, “Bahagia itu sederhana”. Benarkah sesederhana itu?

Untuk menjadi bahagia, secara ilmiah manusia membutuhkan adanya senyawa kimia yang menyebabkan perasaan tersebut. Senyawa kimia tersebut memiliki nama masing-masing seperti, dopamin, serotonin, endorfin, serta oksitosin. Setiap senyawa kimia memiliki tugasnya masing-masing untuk memberi hasil akhir yang disampaikan kepada otak seperti perasaan percaya diri, cinta, maupun bahagia. Suplai senyawa kimia dalam otak, dipengaruhi oleh setiap hal yang dilakukan, dikonsumsi, dan dipikirkan oleh tubuh dan otak kita.

Dalam kondisi normal, beraktivitas secara wajar seperti olahraga teratur, mendapat suplai sinar matahari secara cukup, mengatur pola makan, serta senantiasa berpikir positif, memberi pengaruh baik pada senyawa kimia dalam tubuh kita yang menyebabkan kita dapat merasakan mood bahagia dan percaya diri.

Sayangnya, dalam beberapa kasus, ternyata menjadi bahagia tidak semudah itu. Beberapa ketidak wajaran – saya menghindari sebutan “kelainan” – menyebabkan fungsi senyawa kimia dalam otak tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya, meskipun individu tersebut telah berusaha menjalani kehidupan yang normal, contohnya seperti penderita depresi dan gangguan kejiwaan.

Faktor penyebab depresi juga tidak melulu tentang trauma terhadap kejadian di masa lampau. Depresi juga dapat disebabkan oleh adanya keturunan atau hubungan darah dengan penderita gangguan kejiwaan lain seperti bipolar dan gangguan kecemasan.

Pada penderita depresi, terjadi gangguan pada suplai senyawa kimia dalam tubuh seperti misal serotonin, sehingga penderita tersebut dapat dengan mudah merasa cemas, rendah diri, dan khawatir. Pada kondisi ini, seringkali dibutuhkan tenaga psikolog atau bahkan psikiater untuk mendiagnosa dan memberi bantuan apa yang sesuai terhadap penderita gangguan tersebut. Bantuan tersebut bisa berbentuk berbagai macam seperti terapi dan bahkan pengobatan sesuai dengan status penderita.

Akan tetapi, bukan berarti penderita depresi tidak dapat menjalani hidup dengan normal. Penanganan yang tepat terhadap penderita depresi, dapat menyelamatkan penderita tersebut dari kemungkinan-kemungkinan yang seringkali terjadi pada pengidap depresi kronik, seperti menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.

Jadi, dengan tulisan saya yang rasanya terlampau panjang ini, saya ingin menyampaikan rasanya agak geli jika mendengar kalimat bahwa bahagia itu sederhana (Maaf ya bu, hehehe). Mengingat cukup banyak kawan saya yang mengalami gangguan kejiwaan dan mereka senantiasa berjuang setiap saat untuk menjadi manusia normal yang dapat menyederhanakan kebahagiaan seperti kawan-kawan normalnya yang lain.

Tetapi, melihat bagaimana kawan-kawan saya berjuang, saya jadi yakin bahwa meskipun bahagia itu tidak selalu sederhana, namun ia dapat selalu diciptakan, entah bagaimanapun caranya.

26pn78

Advertisements

2 thoughts on “Pursuing a Simple Happiness”

  1. hahaha iya, kadang “bahagia itu sederhana” memang cuma sebuah caption yang dipaksakan, membuat kebahagiaan yang katanya remeh itu bagi sebagian orang bisa sulit xD terimakasih sudah mengingatkan 🙂 semoga bukan kamu yang depresi ya mas nandi, semangat 😀

    Liked by 1 person

    1. hehehehe iya bu. Tapi sebetulnya saya paham kok bu, dari caption yang dipaksakan tersebut sebetulnya ada niatan untuk memenuhi kebutuhan manusia keempat setelah sandang, pangan,papan, yaitu harapan hehehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s